PUISI KE-4

Menjelang

Oleh : Madagumilang

1.

Menjelang langit memberikan mendung dan hujannya membasahkan sepi di sekujur simpuhmu merebahkan ilalang, masih diingat oleh matahari bahwa suir serangganya membeku, dan tergagap-gagap menyerukan usir, hingga tak lagi khawatir. Ketika kautinggalkan padang tak berteduh ini, maka orang-orang mencatatnya dengan teliti, bahwa papan di tepian berpagar itu menuliskan huruf demi huruf  kehidupanmu.

Tapi tatkala diberikan takut itu sesampai di lorong labirin, serumit jalan ke kanan atau ke kiri tetap akan menjebakku dalam gemetar hingga fajar. Maka tunjukilah aku jalan lurus, nanti di ujung hari kuejakan warna-warna pelangi, yang lengkungannya pelan-pelan menyusun berlapis-lapis tingkahlakuku menjadi daftar kata-kata tersulit, yang ketika kaubaca tiba-tiba berniat menjadi guru alifbata

2.

Menjelang aku melihat kitabmu, samar-samar lembarannya mulai digerbangi salam. Mempersulit kabut berjalan menuju pintumu, aku merasakan seperti berhak mengetuk atau masuk. Lalu kudengar keluh itu ketika menolak suara pamit teramat lemah. Jadi, apakah bersinggah ini sungguh kauinginkan demi mempersudah subuh?

Maka berhenti aku tidak mengetuk atau masuk. Dan semua langkah membeku bersama  darah. Menahan marah nadinya, denyutan demi denyutan memperkuyup jantung dan tubuhku. Maka di pinggir duha, gerah siapa lagi ingin kukipasi selain dhuafa?

3.

Menjelang memasuki ruang-ruang kelasmu, soraksorai pun terbungkam sepadam kuburan. Sekuat tenaga mereka melumpuhkan kantuk, tapi terhunjam juga dengusan kuapnya mengangakan ketakberdayaan. Gagal menutupi pikiran-pikiran yang mulai membusuk, jam di dinding tergesa-gesa ingin mengakhiri siang panas, gerah, menjumpai sahabatnya bernama kegelisahan dan lapar.

Mereka bertemu di ruang-ruang kelasmu itu seharian. Maunya mencetak berpetak-petak ilmu ke seluruh isi otak. Memandang rendah kebodohan yang mewabah ke segala arah, menjadikannya sekumuh sampah berlalatkan kebingungan, dengungannya tidak membunyikan satu huruf pun walau pernah kauajarkan.

4.

Menjelang tiba di luar, murid-muridmu itu seperti tak sabar melumpurkan tabiat demi tabiat dalam kubangan yang menistakan hari-hari kemalasan. Mereka belajar menukar rupiah dengan dosa terampuni. Mereka menukar rupiah dengan martabat. Dan mereka pun berani menukar angka-angka penilaian yang rapornya dituliskan malaikat. Tapi tak juga sua siapa yang denyutnya pelan-pelan menjelang maut tanpa merasa dijemput, menghentikan kesombongan menolak laku berpuluh-puluh pahala.

18/12/2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: