PUISI KE-5

Keakraban

Oleh : Madagumilang

Sebaiknya keluhkan sebilah pisau kekacauan demi menghindari deru galau ketika tercukur ujung-ujung rambut digerai separuh uban. Namun cegahlah tajam kilaunya memantulkan cahaya serong di pagi mengkilat yang arahnya tegas menghalau kegelapan makin tersingkir ke pojok. Biarkan di sana ia menemukan janjinya dulu pernah dihilangkan selama tujuh tahun karena kekhawatiran tirani dikalahkan. Lalu datanglah keakraban itu tanpa menyapa di siang yang mengejutkan menghapuskan pemencilan.

Aku datang sekarang, memberikan salam itu kembali ke sumbernya dalam kurun yang merentang dari kebodohan sampai keprofesionalan. Doaku jadi lupa kepada kesalahan-kesalahan kita berdua, ketika memburu kemenangan semu meraih langit dan berebut bintang dengan nafsu keserakahan naif penuh ambisi kekuasaan. Maka Allah berkenan memberikan cobaan bagimu, ketika Allah memberikan cobaan bagiku, sehingga ketakutan-ketakutan kita menyapa hadirat-Nya sebelum saling memaafkan, bahwa kebersamaan  dalam sangsi sungguh tak terperikan jitunya menjawab patut tentang siapa yang lekas tiada.

Dan akupun menunggu datangnya keakraban itu.

Ponorogo, Juni 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: