PUISI KE-6

TRINIL, 24 NOPEMBER 2007

Oleh: Madagumilang

Trinil,
Demi menemuimu, aku tak memprotes bis-bis yang kutumpangi meski tak belok ngikuti baliho petunjuk ke arahmu. Padahal aku seperti melihat kau melambaikan belalai Stegodon sambil terburu-buru memaafkan keterlambatan rombonganku. Demi mengenalmu, demi menyayangimu.

Tapi setelah di hadapanmu, Trinil
Aku merasa tak lagi warok. Karena sepasang gading Stegodon itu, ketika lengkungnya teracung terang-terangan meremehkan koloranku. Menertawai ketelanjanganmu pun aku tak sanggup, dan benar, dari dalam diorama itu kausapa sekujur kegelapan menyelubungi udeng ketertegunanku.

Pithe!” teriakku mencoba mengakrabi nama bekenmu, Pithecanthropus erectus. Kau pun seperti membungkukkan punggung, tapi bukan sedang menghormatiku, sayang, tanganmu tergantung ringan di sisi tubuhmu. Mungkin kau telah pungut semacam geram yang jatuh lirih di bicaramu, lagunya menyebarkan dialog aneh sehitam penadonku, menetes-netes memoles pekat di kulitmu.

”Madagumilang, my friend”, sekonyong-konyong namaku kausebut lembut memilah keramahanmu. Dialeknya berbau tubuh seorang Belanda, Eugene Dubois. Dia telah  memandangku lekat sejak 1891, cuma sejarak 175 meter dariku, dari tugu kecil 80 sentimeter ini, kau ada di arah lurus sungai Bengawan Solo yang sedang berkelok. Kurang ajar benar yang kaulihat. Ada truk penambang pasir mengisi muatan. Dan Pithe, segera kautanyakanlah, mungkin terbawa juga sisa-sisa slilit dari gigimu.

Trinil, kaudengarkanlah
Sambil menyandar ke pohon juwet, lenguhan Bubalus Palaeokarabau lagi merumput, tak peduli pada matahari, meski tanduknya sepasang terpajang di museummu. Begitu malas langkahnya sejak purba, mengunyah-ngunyah pelahan, seakan takkan ada perubahan. Dan terus mendekam di kubangan zaman.

Barangkali Trinil,
Kau pun turut kecewa seperti para replika tengkorak itu kecewa. Namun, aku tetap akan meninggalkanmu, tanpa jabat tangan atau ucap salam. Karena, kautahu aku sibuk melonggarkan koloranku. Aku kembali merasa warok, sekarang. Setelah dapat kurasakan kencangnya ikatanmu, seperti fosil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: