PUISI KE-7

Kraton Solo, 24 Nopember 2007

Oleh: Madagumilang

Aku ketemu Kraton Solo, di rambut memutih guruku. Kususuri jejalur pengalamannya  dari glukosa hingga ke gula kelapa. Sejak dikibarkannya merah-putih di puncak 72 batang pohon sawo kecik, di depan Ngarso Dalem Dan daun-daun sawo kecik pun melengkapi cerita indahnya sambil berbaring di pasir pantai laut selatan, menahan lembut senyuman Kanjeng Gusti Putri Kencana Sari.

Guruku adalah Kraton Solo, kalau kegarangannya kubayangkan sedang menyandang berbagai meriam. Tapi dia diam seakan-akan  memendam kearifan demi kearifan sebuah peperangan. Dan saat-saat keakraban hilang, dia jadi berubah setenang pajangan, jadi  enak dipandang di koridor museum yang panjang menggelandang langkah-langkahku mengikuti guide. Langkah-langkah itu serasa melintasi zaman, pencapaiannya menjelma dalam lekuk-lekuk sebuah keris, atau seruncing tombak, atau setajam pedang. Tiba-tiba mereka tergesa-gesa berlarian di sisi kereta, sebelum berhenti kehausan, lalu menenggak air sumur timba tanpa curiga, sesegar air wudhu di sisi utara samping mushola.

Tapi, aku hanyalah murid yang kratonnya sibuk mencari Ponorogo, karena Ponorogo akan rela menjemur segala baju yang tercecer sejak di Klewer. Aku benar-benar Klewer, yang harus ditawar-tawar dengan sabar, dan segera dibayar ketika mau buyar. Ketika tiba perasaan khidmad membenamkan sujudku ke lantai mesjid, aku merasakan pandangan guruku atas penyerahanku kepada ibadah. Sungguh lemah, dan sesungguh-sungguhnya tiada ada dayaku di hadapan-Nya.

”Tapi Madagumilang kamu mampu”, guruku menyemangatiku sembari menekankan jemari kencang di pundakku.”Kita bisa kuat tanpa obat. Kita hanya butuh semangat” Aku menahan senyuman kuat-kuat, agar guruku tak menyadari, bahwa aku sempat melihat penjual jamu itu berkelebat, setelah guruku membayar seikat jamu kuat.

Di sini, Kraton Solo ini,
Mereka mengajariku mengerti, guruku dan Ponorogoku

2 Tanggapan

  1. andai kumampu mengarahkan wajahku ke sana,
    tapi diriku membujur dalam kenangan

  2. Terimakasih atensimu, Asfiruka

    Kau pasti mampu ke sana
    Dan kenangan pun mengantarmu
    Setia

    Salam,

    Madagumilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: