PUISI KE-9

Ada Yang Tertinggal  Dalam Pencapaian Itu

Oleh : Madagumilang

1
Barangkali aku masih tak akan mengerti laut di tubuhmu itu, jemariku takluk bermain di dua puncak gugus bukit. Ketika fajar tetap lelap pada matamu yang rapat dan desis melepas gelisah ikut melajukan perasaanku dengan layar robek menyeberangi gelombang demi gelombang geletar tubuhmu.

Ada yang tertinggal dalam pencapaian itu. Bukan bekas telapak di pasir pantai, tetapi sebuah puisi yang kauguratkan pada punggung dan leher. ”Buat anak-anak nanti”, katamu sambil mengemasi daun-daun nyiur dan menghela kawanan gurita makin jauh ke lubuk.

2
Menyaksikan kegugupan melabuhkan cinta, aku merasakan kasar angin laut nakal mencakari rambut. Terhembus napasnya berubah arah menjemput bulan yang terkurung jajaran bukit-bukit gersang. Namun tak dikerlingnya matahari kian menyerong ke balik lembah memejamkan cahaya. Seakan-akan sedang bercermin diam-diam dalam kedalaman lautan menghimpitkan muka ke bayangannya. Riaknya. sekedar berlalu memercikkan kesadaran yang membusa dari balik cakrawala.

Ada yang tertinggal dalam pencapaian itu. Bukan tiba-tiba merasa diguncang gelombang keberanian, tetapi kegamangan ketika cinta menyergap merobek-robek layar untuk mengembang ke pelabuhan berikut.

Bandung 1978 – Ponorogo 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: