PUISI KE-10

Puisiku


Oleh: Madagumilang


Layar, berikan robekmu pada hati pelaut yang malam ini mengaku tak lagi pandai berenang. Padahal badai reda telah selesaikan amuknya dan ikan-ikan makin jauh sembunyi ke lubuk, tapi gunung ombak jadi kehilangan geram bersidiam mendengarkan pengakuannya. Bahwa pelayaran telah membawa jiwanya kepada mengerti kata-kata. Kata-kata itu meluberi samudera mencari penyair yang melupakan benuanya dan dinanti labuhnya di ini pantai. Puisi.

Puisi yang sarat kata itu terus-menerus diseret menepi, gagal bertolak, urung menyumbang ngeri tualang pada arti pasang atau surut. Selalu terkurung dalam selubung kegelapan, ia tergantung tinggi sepohon nyiur, semacam sangkar aneh bagi para camar pribadi ketika yang lain ocehnya tak hanya terdengar di telinga diri sendiri.

Maka berlayar ia sendirian. Mengarungi luasnya kata. Menangguk makna dari kedalaman palungnya, tapi lolos, hingga kelelahan menenggelamkannya pelahan meski bukan menyebabkan disiapkan lubang makam. Sebab lautan memberikan begitu banyak buat pemulung harapan, bila kelak tersangkut pula hari akhirnya di runcing karang, berlumut rumput laut, maka bisa ia kibaskan ketika segalanya menjadi ketakpedulian panjang.

Jadi belum akan dikafani puisiku, walau tak satu kaubaca.


26/7/2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: