Sang Garang Pun Tegak

Sang Garang Pun Tegak

Oleh : Madagumilang

Tegak berdirimu di titik mana pun ditunjuki murid-murid itu, ketika menghentikan putaran globenya di hadapan guru. Guru pun menandai koordinatmu dengan setumpuk penadon sembari menghunus sebilah pecut samandiman di atas sekeping prasasti. Prasasti yang sering lupa menuliskan namamu di udeng-udeng sejarah Ponorogo, ketika ia terlalu akrab dengan godheg, brewok, dan simbar dhadha para warokmu, Sang Garang yang menjaga dan serentak melihatmu bagai setiap makhluk berteriak reyog.

Reyog itulah yang mesti membimbingku agar mendengarmu lantang. Lantang dengan girangnya tembang berbibirkan gong ketika mengalirkan gaung penghisap rohku gelisah didentangi telapak kendangmu, tapi tak kudengar napas terengah meski lehermu berkeringat menggeleng-gelengkan kegarangan barong dan bulu-bulu meraknya meliuk-liuk dikipasi lengking seruling yang tak putus-putus ditiupkan. Ditiupkan lalu kausujudkan ke bumi segala seringai menakutkan itu bergulingan panik seakan gigit-menggigit umpan kecemasan. Kecemasan tak peduli negara siapa yang berani mengaku lagi memilikimu.

Memiliki keberanian itu terus mengalirkan Ponorogo dalam darah siapa pun kamu, meranumkan rona geraman barong sehingga dalam nadi seperti menerkami kelincahan meledek bujangganom sambil memperebutkan keelokan telak para jathil yang berloncatan di bumi reyogmu dan siap dilindungi Sang Garang.

Ponorogo, 18 Februari 2008


Ketika Kausebut Deraku Di Sabit Rembulan

Ketika Kausebut Deraku Di Sabit Rembulan

Oleh: Madagumilang


Ketika pagi itu digelapi kabut dan kau dingin menggelayut, apakah hangatmu menjadi milikku selalu? Pada bisikan yang meresah langkah demi selangkah cahaya fajar membuntuti nasib tak menentu, masih kaukah itu yang berlalu meski sekilas memberi cerah gundahku? Mengiringi riang mentari mencakar-cakar daunan ranggas menjemput  keringnya kemarau mendekatkan hasratku terpikat, apakah dengan parasmu melulu?

Tidakkah kautengok elokmu? Selagi berkaca kepada masa, memantul seketika segores lukaku dilecut pedih kehidupan gagal mengisi sekeping piring dengan serantang nasi sayur daun ketela demi berdua. Lalu tetes airmataku mendengar niat puasamu. Dan kausebut deraku di sabit rembulan. Langitnya berbiru aorta menggembungkan darah kepasrahan menahan nyerinya ikhlas. Untuk selalu setia di sisiku.

Ponorogo, 26 Maret 2009

Setegur Sapaan Handaiku Di Pemilu

Setegur Sapaan Handaiku Di Pemilu

Oleh :Madagumilang

Aku inginnya berkali-kali menegurmu mengingatkan naifnya perjumpaan dalam keriuhan sombong sebuah kampanye memilih tuan bagi kerajaan demokrasi impian. Mereka saling mendahului menebar kekaguman mempercayai kebohongan mampu menyihir harapanmu yang teramat awam tapi dilangitkan dengan janji-janji.

Janji-janji itu entah kapan akan membumi ketika terlihat tangan-tangan tak amanah menanamkan kebodohan masa lalu yang akar-akarnya menjerat langkahmu. Langkah yang ingin berubah menjadi loncatan ke kerlip gemintang selagi memancar dari ubun-ubun bapa angkasamu dan menghunjam di ibu bumimu itu berbinar-binar menerima bukti prestasi demi prestasi.

Ponorogo, 21 Maret 2009

Critaku Melu-Melu Milih Lan Maelu Malah Marahi Ngelu Dudu Laraning Ati Kang Diapusi

Critaku Melu-Melu Milih Lan Maelu Malah Marahi Ngelu Dudu Laraning Ati Kang Diapusi

 

Oleh : Madagumilang

Diapusi, kaya-kaya sadurunge kembul mau kabeh duwe niyat ngepung tumpeng. Tumpeng ora sebaene tumpeng panganan pepak lelawuh enak, nanging kang dadi rebutan malah papan kanggo lelungguhan. Lelungguhan kuwi ngelingake olehe miturut marang sing didhawuhake sesepuh, dene rasa melik bakal nggendhong lali. Lali yen sajeroning weteng luwe swara kemrucuk ngundang ati kang sabar ora wani nglanggar wewalere angin lesus lan panase srengenge. Srengenge yen nedheng kuwasa madhangi ndonya masiyo mendhung ngapokake sok sapaa sambat sumuk kemringet. Kemringet lan tumetese getih nelesi loyalitas marang panguwasane sepepadha menungsa. Menungsa kang nalika nemahi asat rejeki, misuh-misuh nrithil dilalekake sedulur, mung mengkono.

Mengkono kuwi nalika aku krungu kabeh padha satru ana ing pemilu ora maelu critaku.

Ponorogo, 20 Maret 2009

Terpuruk Di Masa Tercerabut

TERPURUK DI MASA TERCERABUT

Oleh: Madagumilang

Pernah menjadi yang terpaling. Sebentar kemudian dipalingkan. Ketika melupakan sujud mengabai sembah. Aku terpuruk di masa tercerabut. Menghitamkan coretan di larik perjalanan memprosa kata yang hiba pada ketakutan hina. Pada kesederhanaan usia mencari jati diri. Siapa yang tegaknya begitu rajin di malam larut. Menghilang.

Lalu kepergian ini tak akan bermakna pulang. Memukimi seribu persembunyian dan mengatakan kerasan. Tapi Kauakhiri jua. Dengan perjumpaan sekonyong tanpa aba-aba menemani sepinya khusuk. Tetesnya doa satu-satu di pelupuk.

Ponorogo, 17 Maret 2009

Kapang

Kapang

Anggitanipun: Madagumilang

Dak dulang jenang abang anakku lanang

Dak ombene wedang sak clegukan

Ben mari olehe tansah kapang

Marang prawan kang saiki ana sabrang

Golek pangan kanggo ngowahi nasibe wong kekurangan

”Simbok, aku wis kapok”

Ponorogo, 14 Maret 2009

Menggairah Naungku

Menggairah Naungku

Oleh : Madagumilang

Kelelahan terayun-ayun di ujung daun, aku terkoyak di kelopak, dihancur duri sekujur. Tapi tamanku gagal dipagar tafsir tentang dengung bebungaan memekarkan sejuk naungan. Ketika tiba-tiba menyengatkan bau bangkai, menuba wewangi kemesraan mabuk mencintai duniawi.

Selesai sudah jemari harapan merapikan bebat lukaku memiliki. Ketenangan meraih kenakalan menggaruki. Gelisahnya amat berulat. Cekatan membenamkan bulu-bulu tajam menyayat kerinduan. Menghama darah melepuhkan bisa perjumpaan. Lama terseret-seret. Gairah dan kegatalan hatiku menghadap kiblat.

Ponorogo, 11 Maret 2009