Sang Garang Pun Tegak

Sang Garang Pun Tegak

Oleh : Madagumilang

Tegak berdirimu di titik mana pun ditunjuki murid-murid itu, ketika menghentikan putaran globenya di hadapan guru. Guru pun menandai koordinatmu dengan setumpuk penadon sembari menghunus sebilah pecut samandiman di atas sekeping prasasti. Prasasti yang sering lupa menuliskan namamu di udeng-udeng sejarah Ponorogo, ketika ia terlalu akrab dengan godheg, brewok, dan simbar dhadha para warokmu, Sang Garang yang menjaga dan serentak melihatmu bagai setiap makhluk berteriak reyog.

Reyog itulah yang mesti membimbingku agar mendengarmu lantang. Lantang dengan girangnya tembang berbibirkan gong ketika mengalirkan gaung penghisap rohku gelisah didentangi telapak kendangmu, tapi tak kudengar napas terengah meski lehermu berkeringat menggeleng-gelengkan kegarangan barong dan bulu-bulu meraknya meliuk-liuk dikipasi lengking seruling yang tak putus-putus ditiupkan. Ditiupkan lalu kausujudkan ke bumi segala seringai menakutkan itu bergulingan panik seakan gigit-menggigit umpan kecemasan. Kecemasan tak peduli negara siapa yang berani mengaku lagi memilikimu.

Memiliki keberanian itu terus mengalirkan Ponorogo dalam darah siapa pun kamu, meranumkan rona geraman barong sehingga dalam nadi seperti menerkami kelincahan meledek bujangganom sambil memperebutkan keelokan telak para jathil yang berloncatan di bumi reyogmu dan siap dilindungi Sang Garang.

Ponorogo, 18 Februari 2008


21 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: