Sarangan, Puisi Karya Madagumilang

Sarangan

Oleh : Madagumilang

 

kalau kauciumi lembah katakanlah : kabut pada bibirmu

bergigikan embun tajamnya dingin

yang menggigit musim-musim basah hingga meringis sibak daunan hutan

begitu kemerlap cahayanya

lalu bagaimana akan kukorek sisa santapmu angin gemunung

dengan belati pandang mataku ?

19 Tanggapan

  1. sekedar menikmati untaian kata, indah begitu indah

  2. >:D<
    puisi yang indah mas Mada

    kabut dibibirnya meleleh terkena kemerlap cahaya
    kemudian ia mencair seperti kutub utara sekarang
    perlahan mencair
    Tak terasa musim basah itu begitu memusim
    tak hanya di hutan saja tapi mengglobal

    • saya terima penilaian Apria
      dengan imbalan
      sebuah terimakasih teramat dalam
      jauh dalam dari dasar hati tulusku

  3. Puisi yang menarik.

    Salam
    TB

  4. kok bayanganku “kemana-mana” ya???

  5. ya, pikiranku kemana2..aku tak mau pikiran ini akan membusukkan semua angan-anganku pada dunia dan senyumnya…
    begitu juga dengan puisi pak Mada…
    puisinya terlalu indah jika hanya dipajang di blog ini….
    ikan di muara anda tentu tahu jantan dan betinanya,,,,,,
    heheheheh…….

    • lo, lo, lo, tapi jangan lalu berhenti berpikir
      walau ke mana
      ya kan?
      dan setelahnya, baru bekerja
      dan berdoa
      kan, iya!

  6. puisinya bagus-bagus. kereeen! udah dibikin bukunya belum? buat menambah khazanah sastra indonesia…

    • antoloji sih dah pernah cuma ngga kearsip di issn
      tapi, terimakasih i@r dukungan dan dorongannya
      juga kunjungannya

  7. lantas bagaimana bila daku belum siap mendaki?

  8. Salam kenal pak Mada,
    Puisinya luaaar biasa!
    Benar juga Pak, buat bukunya ….!.
    Buat nambah koleksi buku di perpustakaan sekolah kami,
    Kata siswa-siswaku, “Perpustakaan merupakan tempat yang paling bisa membuat hati damai dan bahagia”

    • terimakasih
      atas sanjungan dan kunjungannya, Bu Puspita W
      semoga menjadi pembelajaran kita bersama

  9. Saya suka puisi🙂
    tapi kalo yg bahasa jawa kayak yg sebelum2nya
    saya nyerah hehehhe
    nah yang ini, puisinya pendek, padat dengan untaian yg indah🙂

    Salam kenala juga pak🙂

    • ya, kalo yang Jowo ngga ngerti, ngga papa, to
      tapi tetap terimakasih kunjungannya, Ekaria27

  10. kau panggil saja aku, kinanti..
    tentu bukan dengan nama itu ibu memanggilku
    tapi tak mengapa.. panggil saja aku, kinanti..

    karena aku, kinanti.. memang selalu menanti
    menanti hujan untuk bisa berbisik pada pasir
    menanti kata yang dialirkan oleh Sang Pemilik Kata..
    untuk kemudian kualirkan lagi kepadamu..

    ‘kinanti’ yang kukenal
    adalah sebuah tembang jawa yang aku sendiri tak paham..
    aku hanya mengerti bahwa tembang itu bernada datar
    hingga sulit kubedakan dengan tembang jawa yang lainnya..
    seperti itulah aku.. datar..
    sampai kau kebingungan mencari makna

    aku, kinanti.. masih menanti
    ada yang berkata aku menanti cinta datang menghampiri
    aku ragu.., karena seharusnya aku yang menghampiri cinta

    seharusnya aku yang menghampirimu..

    note: madagumilang.. aku ibunya kinanti reinkhadija Arrumi.. salam kenal🙂
    aku cinta puisi sarangan ini.. rein pernah cerita ke aku.. maka aku berkunjung kesini
    dan aku persembahkan puisi perkenalan ini untukmu..
    ==========
    madagumilang benar-benar kau pukau
    sengit memikat
    puisimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: