Pidato Kampanyeku, Puisi Karya Madagumilang

Pidato Kampanyeku

Oleh: Madagumilang

Di rumputan inilah semua nyali terpanggang geramnya mentari mengeringkan punggung berkeringat memungut gegas peluang keberhasilan. Atau siraman hujan berbasahkan pelukan aneka keinginan. Berkerumun mendengar bla-bla-bla yang di panggung itu bertukar mudah dari bukti dengan janji. Tak pernah takut menyanggah kekalahan apapun. Dan menang, dan menang melulu yang ada di genggaman tinju. Berteriak mengobarkan api yang memberikan jejak. Hati yang terbakar ketika sekadar kelakar pun tak mampu menjamin impasnya seteru.

Apa cukup begini pidato kampanyeku, sehingga begitu mudah memisahkah berkah dan musibah? Akankah selepas pesta ini kita berbagi air mata? Atau dengan menyanyikan kabut kaudenyutkan kembali sejuknya hati, ya Illahi.

Ponorogo, Juni 2009

3 Tanggapan

  1. Ada Award dari saya OBA 2009
    Jika berkenan silakan di estafetkan

  2. Malam itu aku bermimpi tentang seorang lelaki
    putra bumi kesayangan negeri
    dia datang disaat fajar
    berjalan didalam badai meniti gelombang

    “Aku telah datang dengan membawa bara di dada
    dan seperti yang kuinginkan api itu telah membesar dan terus menjalar”

    bangkit berdiri anak-anak negeri
    menghimpitku di tengah-tengah mereka
    berseru gegap gempita
    canangkan tekad bajakan semangat

    tiba-tiba dari seluruh penjuru datanglah
    laskar petaka mengumbar murka
    tercerai berai.. terserak kami semua

    berdirilah dia dihadapan para dursila
    setegar karang setenang samudra
    menantang maut serahkan hidupnya

    …dalam kegeraman
    …dalam kemurkaan
    mereka menyesahnya
    putra bumi kesayangan negeri
    direnggut dari tengah-tengah kami
    kini telah pergi dia yang kami kasihi

    lalu kulihat seorang badut
    wajahnya dipulas dipatut-patut
    seringai serigala namun terlihat selalu tertawa
    “Aku telah datang membawa kesenangan dan kegembiraan
    hidup hanya sekedar permainan mari jadikan sebagai panggung hiburan”
    Gegap gempita seluruh negeri
    badut diangkat didudukkan kursi
    “jadilah pemimpin kami
    terima hormat daulat kami”

    hancur hatiku melihat itu
    dengan menangis aku berlalu
    bangsaku oh bangsaku
    mengapa kalian begitu dungu?

    Terbangun aku oleh suara lembut istriku
    “Sayangku, Sayangku.. engkau bermimpi buruk lagi
    tenanglah ..aku disini ..aku disini”
    kulihat wajah cantiknya dengan mata sebening telaga
    dalam emosi kudekap dia
    menangis aku dalam cintanya
    “peluk aku… peluk aku…”

    madagumilang tan kocapa, tan kuwawa kumecap yagene impen iki kaya wus dumadi ana kanyatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: