Melangkah Merebah, Puisi karya Madagumilang

Melangkah Merebah

Oleh : Madagumilang

 Maka mereka bagai mau merubung mayat basah seorang pelacur tenar sepanjang kompleks ini, ketika tenggelam dan tersangkut hamparan sampah sungai. Tetapi ia bukan siapa-siapa. Ternyata ia adalah hidup kita. Yang agaknya selama ini kita jual dengan selalu meminta, menodong, mengejar : apakah bukan kebahagiaan?

 Apakah itu receh yang kaulempar di tapak tangan? Apakah itu tas yang kausabet clurit tergesa-gesa? Apakah itu jerat keputusasaan kencang di leher?

Bohong. Mampu kita berpura-pura, bukan? Serius main sebagai kyai. Sebagai pahlawan. Sebagai dhuafa. Lalu berharap-harap agar diharapkan. Padahal harapan itu pun kaukoreki dari hamparan sampah.

 Tapi tak kaudapat, sedang harapan pun kautawar-tawarkan. Tapi tak kaudapat. Selain debu dan asap knalpot. Semoga dikirimkan bulan sore. Saat-saat denyutku mulai, denyutku usai, dan belajarlah aku. Pada lampu-lampu supaya sigap menyepakati bising. Menghirupi asap karena napasku, karena darahku bergejolak : Diam !

Kita sedang dalam antrian panjang menuju macet yang sangat rahasia selesainya.

Mati

 1978 – 2007 – 2009  

2 Tanggapan

  1. itu aku yang kau bicarakan, guru..!

  2. tak kan mampu aku
    mengguruimu, nakjaDimande
    apapun aku
    kau jualah kau-Mu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: