Bromo, 1992 Oleh : Madagumilang

Bromo, 1992

Oleh : Madagumilang

Di bibir kawah Bromo, berdegup kian kencang jantungku menerobos tebal asap belerang. Maunya kelelahan memanjat tangga ini segera bisa melipat lereng cadas itu, hingga ke dasar dan menyelesaikan keraguan tentang apa mencari apa. Di sinikah wadah kehadiran segala resah akan tertumpah?

Membayangkannya sedang menganga dengan raksasa, dan gigi-giginya dikilaukan cahaya jinak mentari pagi, ketika para turis terus menjerit takjub menahan langkahku di langkah akhir. Bromo terus menjulurkan lidah pasirnya menjilati tahi kuda hingga berujung di mobil jip parkir.

Aku pun terendam di laut pasirmu, bukan karena semalam hujan turun membelah bebatu.
Subuh ini kerikilnya menempel dahi sujudku dan bertanya-tanya tangan siapa menyeret-nyeret doa khusuk setengkurap gunung Batok sembari tak tega meraba-raba rumputan rebah.

Mereka menggeleng tak mau mengingat lagi menemukan apa di sepanjang Ngadisari – Sukapura. Kapan membelok atau ketika menanjak tegak, semuanya bergegas menyelesaikan teka-teki yang tergenggam di tangan sopir. Dan memanjat jurang demi jurang kecemasan memintaskan jalan nasib mempertanyakan, akankah bisa diganti ini hari?

1992 – 2007 – 2010

2 Tanggapan

  1. Madagumilang yang kuikuti langkah demi langkah, walau aku kelelahan memanjat kata demi kata.. mengejarnya.

    tak kuasa..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: