Menengadahkan Tundukku, Puisi oleh Madagumilang

Menengadahkan Tundukku

Puisi oleh Madagumilang

Menerima kenyataan ini, aku seperti terhumbalang. Kemudian ketika bangun, kurasakan secara gradual warna-warna kelabu muncul menyatu kembali membentuk tidak sekedar bayangan, tetapi ujud dia. Setia memelihara harapanku.

Begitulah, ketika pertama kau kusua, sempat keraguanku seakan menyalakan bara api resah menerima kegagalan sapaanmu. Meski tipis di gemetar bibirmu, tapi berkobar membakar duka di dadaku, seolah lupa takkan berakhir. Kasmaran ini.

Ketika suaramu tak berdetik mendetak, di jam-jam sepiku mencairkan kegelisahan tak terhentikan. Mengalir di sepanjang nadiku, menggejolak darah, dan dalam amarah memanggil-manggil namamu. Ia berseru kencang, bagai bah menyeret-nyeret kerinduanku. Sepanjang waktu, setekun doaku.

Pernahkah kau malam-malam terbangun sepertiku? Menatap kenangan, melahap kekosongan demi kekosongannya. Menjilati liku-liku laku kita, yang begitu singkat meleleh ke sekujur umur. Basah di hari-hari gerah dilelahkan resah, dan begitu kejang ketika yang ditengadahkan selalu pinta.

Ponorogo, 2011

Iklan