Cahaya Bulan Mengangkang di Dedaun Pohonan, Puisi Oleh Madagumilang

Cahaya Bulan Mengangkang di Dedaun Pohonan

Puisi oleh Madagumilang

Sungguh elus jemarimu itu seakan tak segannya bulan, ketika ia mengangkangkan cahayanya membahagiakan semua buram sehabis hujan. Di urai rambutku pun sigap menyusup-nyusup bagai menjelajah kerimbunan pohon. Lalu kaulihat kilaunya saat tersenyum, bagai gemerlap memancar-mancar bergoyang di dedaunan basah. Apa ada yang mengusik sepasang serangga jadi diam, dan tak ingat lagi sejak isak terakhir menggigil?

Kalau sekarang satu-satu mereka berloncatan di kolam embun, membenamkan harapan tak berguna menjadi bayang-bayang hari kemarin, begitu semu. Kenapa mereka gelisah menahan berahi sambil menjemput fajar di balik kabut? Tapi, bukan kau dan aku kan itu?

Dingin di luar, biarkan aku masuk. Sebab, jika kau kunci semua pintu hati, nanti juga hanya dalam pejaman mataku kau kutemu. Hingga tersungkur aku kembali tidur, tak juga sampai batas belantara pemahamanku. Tidak lagi tahu bisa kujangkau tidak akhirnya ujung harapan. Rasanya masih terus meraba-raba mimpi di kegelapan, aku tertepiskan oleh kepastian nyata, bahwa haruskah kusinarkan dahulu diriku demi terbang menemuimu. Lalu ada juga yang membangunkan lagi aku, di larut dzikir itu.

O, cahaya bulan mengangkang di dedaun pohonan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: