ESEM MUNG SAK KLECEM geguritan Anggitanipun Madagumilang

ESEM MUNG SAKLECEM

~ geguritanipun MADAGUMILANG

ing antarane pilar-pilar iku,
ana saperangane atiku kedudut tatu,
mung kerana kena grayang panyawangmu,
ah, esem kang mung saklecem,
kaya-kaya wus kuwawa muwuhi dayaku tansah nyangga jejege pilar-pilarMu

Ponorogo, 22 Mei 2013

KUKUNYAH puisi oleh Madagumilang

Kukunyah

Puisi oleh Madagumilang

 

Berdamaikah nafsu-nafsu dalam hati dan otakku

Yang berdesakan didorong ruh

Jika kukunyah seucap kesah bermakna doa

Dalam gelisah yang panjang

Dalam desah yang pendek

 

Ponorogo, Februari 2013

Kuminum Kopiku Sedikit Demi Sedikit puisi oleh Madagumilang

Kuminum Kopiku Sedikit Demi Sedikit

Oleh: Madagumilang

kadang dengan mengarungi deras hujan memburumu,
dan kubiarkan sebuah duplikat keindahan hidup
didamba banyak orang sekaligus banyak yang menyia-nyiakannya,
terpegang olehku hangat cangkirnya

itulah mengapa habis kehujanan lalu ngopi, sendiri, tapi segar
kucekakikkan rinduku, dari hitam persahabatan
dan hangatnya seduhan hidup tak berdampingan,  
lalu kuminum kopiku sedikit demi sedikit,
sambil menyerahkan seluruh rasa ingin
menyruput itu tak pernah terlupakan, tapi kapan?

Ponorogo, 14122012

Telaga Ngebel, puisi oleh Madagumilang

Telaga Ngebel

Puisi oleh : Madagumilang

aku pindahkan kesepiannya ini di mataku,

kelak kalau airnya menetesi bebatu memecah hati beku,

akan digemakan dalam jiwa sekejap  kegersangan

dengan  desir suara berlari rasa malu

bersembunyi di balik lebatnya harapan

berkilat-kilat mengikuti muka telaga, seperti wajah sendiri

yang menyerap matahari, ketika khilaf pada malamnya

Ponorogo, 2012

Ketika Berhadapan Laut, Puisi oleh Madagumilang

Ketika Berhadapan Laut

 Puisi oleh Madagumilang

 Aku juga ingin termasuk yang sanggup dibayangkan seperti nelayan. Para pencari kebahagiaan yang berani berterus-terang menjaring ikan-ikan kesepian dan membawanya sampai penat meringkuk ketiduran dalam perahu kegelisahan mereka yang terayun-ayun oleng.

 Supaya saat terbangun nanti, bisa dilihat di kedua-mata keraguan itu semua nampak serba nanar. Mereka juga tidak mendengar lagi ada yang berteriak memperingatkan burung-burung camar kebebasan. Karena diinginkan agar menyingkir dari kerancuan antara kebenaran dan kebatilan.

 Lalu kapan diciptakan bayangan badai perjuangan bagai mengamuk dibagian lain kehidupan ini, bersama debur gelombang gejolak darah, entah amarah entah gairah amanah, membanjiri sekujur nadi-nadi hidup yang tak pernah kekal dan menunggu henti.

 Ponorogo, September 2012

 

Alifbata-alifbataku Selama Ini, Puisi oleh Madagumilang

Alifbata-alifbataku Selama Ini

 Puisi oleh Madagumilang

 lalu bukankah malaikat yang akan mencatat dengan teliti

huruf demi huruf kehidupanku

tapi tatkala sampai perintah itu

semua ketakutan telah memasuki kebingungannya di labirin

serumit kemauan ke kanan atau ke kiri

tetap saja terjebak hingga gemetar terakhir menyongsong fajar.

maka ditunjukilah jalan lurus itu

yang berujung pada kepastian umur

dan berkali-kali mengeja warna pelangi

lengkungan nasibnya menyusun berlapis-lapis tingkahlaku

menjadi daftar kata-kata kesulitan kemudahan

yang ketika dibaca tiba-tiba di depan guru alifbata

 Ponorogo, Ramadhan 1433H/2012M

Dalam Agustus Ada Kemerdekaan, Puisi oleh Madagumilang

Dalam Agustus Ada Kemerdekaan

Puisi oleh Madagumilang

kalau aku adalah malam,
agar tak semakin padam hari-hariku,
tolong merdekakan matahari di hatimu
biar siangnya menjemput kibaran sang saka

yang mengipaskan kegerahan tubuh basahnya
dalam titik demi titik keringat darah,
lalu akan kaucucurkankah selalu dalam sejarah?

 Ponorogo, Agustus 2012